Lab-Grown Meat

apakah daging hasil laboratorium akan dianggap ekstrem di masa depan

Lab-Grown Meat
I

Bayangkan kita sedang duduk di meja makan cucu dari cucu kita, seratus tahun dari sekarang. Di atas piring, ada steak sapi mentega yang harum, lengkap dengan kentang tumbuk dan saus jamur. Tapi, ada satu hal fundamental yang membedakan steak ini dari yang kita makan hari ini: tidak ada satu pun hewan yang mati untuk menyajikannya. Pernahkah kita berpikir, bagaimana generasi masa depan akan memandang kebiasaan kita saat ini? Apakah suatu hari nanti, cara kita memotong ayam atau menyembelih sapi akan dianggap brutal dan... ekstrem? Mari kita bicarakan sesuatu yang mungkin terdengar seperti fiksi ilmiah, tapi sebenarnya sudah mulai disajikan di piring sebagian orang hari ini: daging hasil laboratorium.

II

Secara psikologis, sangat wajar kalau kita merasa agak geli mendengar kata "daging laboratorium". Otak manusia dibekali mekanisme pertahanan purba yang bernama food neophobia, atau rasa takut yang alamiah saat harus mencoba makanan baru. Saat mendengar kata "laboratorium", insting kita mungkin langsung membayangkan ilmuwan gila yang meracik zat kimia buatan. Padahal, mari kita lihat sains murninya. Cultured meat atau daging budidaya ini 100 persen daging asli. Secara biologis dan pada level seluler, susunannya sama persis dengan ayam geprek atau sate kambing langganan kita. Bedanya hanya pada riwayat perjalanannya. Ilmuwan cukup mengambil seukuran biji wijen sel dari hewan yang sehat—tanpa menyakitinya sama sekali. Sel-sel itu lalu diberi "makan" nutrisi seperti asam amino, vitamin, dan karbohidrat di dalam sebuah tangki hangat yang disebut bioreactor. Sel-sel itu tumbuh, membelah diri, dan membentuk jaringan otot sungguhan. Voila. Daging murni tercipta. Pertanyaannya, kalau secara sains ini adalah daging sungguhan yang higienis, kenapa kita masih merasa ada yang janggal?

III

Di sinilah sejarah evolusi dan psikologi bermain tarik-ulur di dalam kepala kita. Selama 10.000 tahun terakhir, tepatnya sejak Revolusi Pertanian, identitas kita bergeser dari pemburu-pengumpul menjadi peternak. Kita perlahan menormalisasi gagasan bahwa hewan ternak memang ditakdirkan untuk dibiakkan secara massal, dikurung, dan disembelih demi asupan protein kita. Tapi, mari kita jujur pada diri sendiri sejenak. Pernahkah kita merasa ada yang saling bertabrakan di hati kita? Di dunia psikologi klinis, fenomena ini dikenal dengan sebutan the meat paradox. Kita begitu menyayangi anjing peliharaan dan bisa menangis melihat video kucing yang terluka. Namun di saat yang sama, kita bisa dengan santai mengunyah nugget ayam sambil menonton film. Demi kewarasan kita, otak kita secara aktif memisahkan wujud hewan hidup yang bernapas dari daging beku yang sudah dikemas rapi di rak supermarket. Sekarang, coba kita gantungkan sebuah pertanyaan besar di udara: bagaimana jika suatu hari nanti, teknologi berhasil meniadakan paradoks itu sepenuhnya?

IV

Ini dia momen pergeseran cara berpikir yang paling menarik untuk kita renungkan bersama. Saat ini, banyak dari kita menganggap daging hasil laboratorium sebagai sesuatu yang ekstrem, terlalu futuristik, atau bahkan melawan kodrat alam. Tapi sejarah selalu punya cara lucu untuk membuktikan bahwa standar moralitas manusia itu terus berubah seiring berjalannya waktu dan teknologi. Ratusan tahun lalu, operasi bedah tanpa obat bius dianggap sebagai hal medis yang biasa. Hari ini? Kita akan menyebutnya sebagai penyiksaan psikopat. Coba kita proyeksikan pola pikir ini ke masa depan. Ketika cultured meat sudah berhasil diproduksi secara massal, harganya jauh lebih murah dari daging konvensional, dan rasanya tidak bisa dibedakan, sebuah pergeseran paradigma besar akan terjadi. Cucu-cucu kita mungkin akan melihat ke belakang dan membaca buku sejarah dengan tatapan ngeri. Mereka akan bertanya-tanya, "Jadi, kalian dulu benar-benar membiakkan miliaran makhluk hidup, menebang hutan demi lahan peternakan, dan menciptakan krisis gas rumah kaca, hanya untuk menyembelih dan memakannya padahal ada teknologi yang lebih baik?" Di titik itulah, makan daging dari hewan yang disembelih akan berubah menjadi tindakan yang sangat ekstrem. Daging tradisional hasil peternakan mungkin hanya akan dikonsumsi oleh kelompok super kaya yang eksentrik, atau dijual di pasar gelap karena dianggap sebagai tindakan amoral oleh masyarakat luas.

V

Tentu saja, kita sadar bahwa kita belum benar-benar sampai di sana. Sangat bisa dimengerti kalau teman-teman masih merasa skeptis atau butuh waktu lama untuk bisa menerima gagasan ini di atas piring makan keluarga. Perubahan yang drastis memang selalu terasa mengancam pada awalnya. Teknologi daging budidaya ini pun secara teknis masih memiliki jalan panjang, terutama dalam hal menekan biaya produksi dan efisiensi penggunaan energi agar benar-benar ramah lingkungan. Namun, sebagai spesies yang dikaruniai akal budi dan kemampuan berpikir kritis, tidak ada salahnya kita mulai membuka pintu pikiran kita dari sekarang. Masa depan tidak melulu tentang mobil terbang, kecerdasan buatan, atau koloni di planet Mars. Kadang, bentuk masa depan yang paling indah adalah tentang bagaimana sains bisa membantu kita menjadi manusia yang lebih welas asih, satu piring demi satu piring. Pada akhirnya, mungkin bukan teknologi baru itu yang harus kita takuti, melainkan keengganan kita sendiri untuk tumbuh menjadi versi umat manusia yang lebih baik.